By : Ukhty Herli
Assalamualaikum
Sahabat Seimanku, semoga Rahmat Allah selalu tercurah kepadamu, Aamiin…
Afwan baru bisa
nulis lagi. Dan Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk nulis J Sebelumnya Aku mau
ucapin “Taqabbalallahu minna wa minkum,
shiyamana wa shiyamakum, mohon maaf lahir dan batin. SELAMAT HARI RAYA IDUL
FITRI 1437H. Semoga puasa yang dijalani selama satu bulan ini diterima oleh
Allah SWT, Aamiin yaa Rabbal Alamiin”
Untuk postingan kali ini, Aku bukan ingin
membahas THR atau kegiatan saat hari raya ya. Sama sekali bukan, bahkan tidak
ada hubungannya dengan itu. Kali ini akan membahas peran teman terhadap diri
kita, peran teman sebagai penentu siapa diri kita yang sebenarnya. Maka dari itu,
pada postingan kali ini Aku beri judul “Pilihlah Teman! Karena Teman Merupakan
Penentu Siapa Diri Kita yang Sebenarnya”
“Cari teman itu
jangan pilih-pilih”
“Apa salahnya sih
kalau jadi teman doang, semua kan bisa berteman” dan pernyataan
lainnya.
Statement tersebut mungkin sudah tidak asing
lagi ditelinga kita, bahkan mungkin disekeliling kita banyak yang mengatakan
itu. Aku kurang setuju, bahkan cenderung tidak setuju dengan statement itu.
Aku sempat membaca buku dari Rusdin S. Rauf
dan Shally Novita yang berjudul “Taklukkan Takdirmu ! Mengubah Nasib dengan
Mengaktifkan Gen Positif”
Dalam buku tersebut bahwa peran teman
sangatlah penting. Mengapa demikian ?
Teman merupakan bagian dari lingkungan
terdekat kita setelah keluarga. Banyak orang cenderung lebih dekat dengan
temannya daripada keluarganya. Bener apa betul ? Untuk itulah teman menjadi
sangat penting bagi kehidupan kita. Mereka merupakan tempat kita berbagi suka
juga duka.
“Seorang teman bisa membantu kalian
melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga. Di sisi lain, teman
juga bisa menghalangi dirimu dari perjalanan menuju surga. Pengaruh teman
terhadap diri kalian memang sungguh luar biasa, bahkan melebihi anggota
keluarga. Inilah mengapa begitu penting untuk berhati-hati memilih teman.”
(kutipan dari Ukhti Kanti)
Sebuah pepatah mengatakan “Berteman dengan
penjual daging, kita akan berbau daging, dan berteman dengan penjual minyak
wangi, kita akan berbau minyak wangi”.
Memang, kata-kata pepatah itu hanyalah sebuah
kiasan. Namun, dalam Islampun dijelaskan
“Sesungguhnya perumpamaan teman yang
baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak
wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau
akan mencium harumnya. Sementara pandai besi akan membakar bajumu atau engkau
akan mencium bau yang tidak sedap” (Bukhari dan Muslim)
Pepatah
serta hadist itu sama maknanya, hanya perumpamaannya saja yang berbeda. Tapi
tak usah diperdebatkan, karena Islam itu sederhana, hanya manusianya saja yang
terlalu mempersulit dengan rencana.
Makna dari pepatah dan hadist itu adalah kita
hendaknya berhati-hati dalam memilih teman karena teman menjadi penentu siapa
kita yang sebenarnya.
Cara
Memilih Teman Yang Baik Secara Islam - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang
itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara
kalian mencermati kepada siapa ia berteman.”
[Hadits
hasan, riwayat Tirmidzi (no. 2387), Ahmad (no. 8212), dan Abu Dawud (no. 4833),
Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]
Aku akan perjelas pepatah serta
hadist tersebut dalam sebuah pernyataan yang merupakan sebuah contoh nyata
bahkan sudah terlihat dan kita rasakan dalam sekeliling kita.
Roswitha-Stemmer Beer mengatakan
semakin sering kita melakukan segala hal sendirian, semakin kita membutuhkan
kehadiran teman. Pernyataan ini merupakan kelanjutan dari fitrah kita sebagai
makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi, membutuhkan teman
agar tidak kesepian. Dan siapa teman kita yang akan menjadi penentu bagaimana
tingkah laku kita. Jika Anda menjadikan seorang penjahat sebagai teman terbaik
Anda, maka Anda akan menjadi penjahat. Jika Anda berteman dengan ahli ibadah,
Anda akan menjadi ahli ibadah. Mengapa demikian ?
Saat kita menjadikan seseorang
sebagai teman baik, kita akan lebih sering berkomunikasi dengannya. Awalnya
hanya seminggu sekali kemudian hampir setiap hari berkomunikasi dan bertemu
serta melakukan banyak hal bersama teman-teman kita. Jika teman kita adalah ahli ibadah, maka setiap waktu shalat
mereka akan mengajak kita untuk shalat. Awalnya, mungkin kita akan shalat
karena ajakan teman, namun lama kelamaan kita menjadi mengerti fungsi shalat. Sehingga
kemudian kita akan selalu mengerjakan shalat sesuai perintah agama.
Demikian juga sebaliknya. Jika
kita berteman dengan orang-orang yang suka dugem,
pencinta minuman keras dan lantai disko misalnya, maka kita akan terbawa oleh
kebiasaan-kebiasaan mereka. Awalnya mungkin atas dasar hubungan baik, kita
merasa tidak enak menolak tawaran teman untuk meminum-minuman keras, lama kelamaan
kita akan menjadi terbiasa dan mulai sering mabuk-mabukan, keluar masuk
diskotik dan sebagainya.
Sungguh ironisnya jika kita
berteman dengan orang yang tidak baik.
Semoga kita semua didekatkan
dengan orang yang baik, yang mengajak kepada kebaikan bukan mengajak kita
kepada kemaksiatan. Wallahu a'lam bishawab...
Quote :
Lebih baik punya satu teman yang
mengajakmu pada kebaikan daripada punya seribu teman tapi mengajakmu pada
kemaksiatan.
Wassalamu’alaikum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar