Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 15 Juli 2016

PILIHLAH TEMAN !!! KARENA TEMAN MERUPAKAN PENENTU SIAPA DIRI KITA YANG SEBENARNYA~



By : Ukhty Herli

Assalamualaikum Sahabat Seimanku, semoga Rahmat Allah selalu tercurah kepadamu, Aamiin…
Afwan baru bisa nulis lagi. Dan Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk nulis J Sebelumnya Aku mau ucapin “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, mohon maaf lahir dan batin. SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437H. Semoga puasa yang dijalani selama satu bulan ini diterima oleh Allah SWT, Aamiin yaa Rabbal Alamiin”

Untuk postingan kali ini, Aku bukan ingin membahas THR atau kegiatan saat hari raya ya. Sama sekali bukan, bahkan tidak ada hubungannya dengan itu. Kali ini akan membahas peran teman terhadap diri kita, peran teman sebagai penentu siapa diri kita yang sebenarnya. Maka dari itu, pada postingan kali ini Aku beri judul “Pilihlah Teman! Karena Teman Merupakan Penentu Siapa Diri Kita yang Sebenarnya”

“Cari teman itu jangan pilih-pilih”
“Apa salahnya sih kalau jadi teman doang, semua kan bisa berteman” dan pernyataan lainnya.

Statement tersebut mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan mungkin disekeliling kita banyak yang mengatakan itu. Aku kurang setuju, bahkan cenderung tidak setuju dengan statement itu.

Aku sempat membaca buku dari Rusdin S. Rauf dan Shally Novita yang berjudul “Taklukkan Takdirmu ! Mengubah Nasib dengan Mengaktifkan Gen Positif” 

Dalam buku tersebut bahwa peran teman sangatlah penting. Mengapa demikian ?
Teman merupakan bagian dari lingkungan terdekat kita setelah keluarga. Banyak orang cenderung lebih dekat dengan temannya daripada keluarganya. Bener apa betul ? Untuk itulah teman menjadi sangat penting bagi kehidupan kita. Mereka merupakan tempat kita berbagi suka juga duka.

“Seorang teman bisa membantu kalian melakoni amalan-amalan hebat yang memicu pahala dan surga. Di sisi lain, teman juga bisa menghalangi dirimu dari perjalanan menuju surga. Pengaruh teman terhadap diri kalian memang sungguh luar biasa, bahkan melebihi anggota keluarga. Inilah mengapa begitu penting untuk berhati-hati memilih teman.” (kutipan dari Ukhti Kanti)

Sebuah pepatah mengatakan “Berteman dengan penjual daging, kita akan berbau daging, dan berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan berbau minyak wangi”.

Memang, kata-kata pepatah itu hanyalah sebuah kiasan. Namun, dalam Islampun dijelaskan 
“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau akan mencium harumnya. Sementara pandai besi akan membakar bajumu atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap” (Bukhari dan Muslim)

Pepatah serta hadist itu sama maknanya, hanya perumpamaannya saja yang berbeda. Tapi tak usah diperdebatkan, karena Islam itu sederhana, hanya manusianya saja yang terlalu mempersulit dengan rencana.
Makna dari pepatah dan hadist itu adalah kita hendaknya berhati-hati dalam memilih teman karena teman menjadi penentu siapa kita yang sebenarnya.

Cara Memilih Teman Yang Baik Secara Islam - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.”
[Hadits hasan, riwayat Tirmidzi (no. 2387), Ahmad (no. 8212), dan Abu Dawud (no. 4833), Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

Aku akan perjelas pepatah serta hadist tersebut dalam sebuah pernyataan yang merupakan sebuah contoh nyata bahkan sudah terlihat dan kita rasakan dalam sekeliling kita.

Roswitha-Stemmer Beer mengatakan semakin sering kita melakukan segala hal sendirian, semakin kita membutuhkan kehadiran teman. Pernyataan ini merupakan kelanjutan dari fitrah kita sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi, membutuhkan teman agar tidak kesepian. Dan siapa teman kita yang akan menjadi penentu bagaimana tingkah laku kita. Jika Anda menjadikan seorang penjahat sebagai teman terbaik Anda, maka Anda akan menjadi penjahat. Jika Anda berteman dengan ahli ibadah, Anda akan menjadi ahli ibadah. Mengapa demikian ?

Saat kita menjadikan seseorang sebagai teman baik, kita akan lebih sering berkomunikasi dengannya. Awalnya hanya seminggu sekali kemudian hampir setiap hari berkomunikasi dan bertemu serta melakukan banyak hal bersama teman-teman kita. Jika teman kita  adalah ahli ibadah, maka setiap waktu shalat mereka akan mengajak kita untuk shalat. Awalnya, mungkin kita akan shalat karena ajakan teman, namun lama kelamaan kita menjadi mengerti fungsi shalat. Sehingga kemudian kita akan selalu mengerjakan shalat sesuai perintah agama.

Demikian juga sebaliknya. Jika kita berteman dengan orang-orang yang suka dugem, pencinta minuman keras dan lantai disko misalnya, maka kita akan terbawa oleh kebiasaan-kebiasaan mereka. Awalnya mungkin atas dasar hubungan baik, kita merasa tidak enak menolak tawaran teman untuk meminum-minuman keras, lama kelamaan kita akan menjadi terbiasa dan mulai sering mabuk-mabukan, keluar masuk diskotik dan sebagainya.

Sungguh ironisnya jika kita berteman dengan orang yang tidak baik.

Semoga kita semua didekatkan dengan orang yang baik, yang mengajak kepada kebaikan bukan mengajak kita kepada kemaksiatan. Wallahu a'lam bishawab...

Quote :
Lebih baik punya satu teman yang mengajakmu pada kebaikan daripada punya seribu teman tapi mengajakmu pada kemaksiatan.

Wassalamu’alaikum 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar