Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Sabtu, 11 Juni 2016

HEY AKHI, JANGAN UMBAR KATA ‘TA’ARUF’ YAA…


Kita kini hidup di zaman yang dimana orang menghalalkan pacaran namun mengharamkan daging babi, dan lebih parahnya lagi mengatakan ta’arufan, namun perilakunya seperti orang pacaran. Astaghfirullah J

Sebelumnya, Aku mau ucapin Assalamualaikum dulu nih sama Sahabat Hijrah semuanya, semoga tetap dalam lindunganNya, dipanjangkan usianya serta dilancarkan puasanya, Aamiin Allahuma Aamiin…

Kali ini, Aku akan posting mengenai ‘ta’aruf’  nih Sahabat Hijrah. Yang dimana kata tersebut merupakan sebuah kata yang mudah diucapkan, sikap yang mudah untuk dilakukan, jika tidak sesuai dengan aturan. 

Banyak Ikhwan yang mengatakan 'Ukhti, Aku tertarik ta'aruf sama Anti. UKhti, Aku mau ta'aruf sama Anti yaa' dan perkataan semacamnya. Itu kalimat yang sering Aku dengar, baik aduan Akhwat maupun ungkapan Ikhwan secara langsung (walau langsung disitu bukan temu muka melainkan lewat sosial media yaa....). Sedikit geram Aku mendengar kalimat tersebut. Sungguh mudahnya Ikhwan mengatakan itu.

Dengan berkembangnya zaman, berkembang pula pemikiran manusia dan teknologi yang ada. Hingga dengan begitu pemikiran manusia mampu menghalalkan apa yang diharamkan, serta dengan teknologi yang semakin canggih pula, semakin mudah manusia menghalalkannya

Banyak jaringan sosial dunia maya yang diciptakan, seperti fac****k, tw***er, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua digunakan sebagai medianya. Astaghfirullah~

Sesungguhnya, semua jaringan itu sangatlah bermanfaat asalkan digunakan dengan tepat. Hal tersebut bertujuan untuk menjalin silaturahmi, yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat semakin di dekatkan, tapi balik lagi harus sesuai dengan aturannya. Namun, zaman pula yang mengubah itu semua. Kini bukan hanya sekedar silaturahmi, namun dijadikan media interaksi secara bebas tanpa batas. Astaghfirullah, sungguh dahsyatnya jebakan dunia maya untuk menjerumuskan kita. Dan sungguh bodohnya, kita terjerumus didalamnya.

Postingan kali ini bukan ingin membahas tentang kejadian hilangnya orang atau pemerk*saan yang diakibatkan dunia maya ya Sahabat HIjrah, namun akan membahas tentang ta'aruf, sebagaimana yang sudah ku beritahukan pada paragraf sebelumnya 

Kasus ta'aruf ini sangatlah memprihatinkan. Seorang Ikhwan sebegitu mudahnya memaknai ta'aruf hanya dengan melihat Akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, ia langsung berani mengungkapkan kata 'ta'aruf' tanpa perantara didalamnya.

"Sebenarnya apa sih ta'aruf itu ? Bagaimana sih cara yang benar melakukannya?".  Nah kali ini, tepat pada postingan ini juga InshaaAllah akan di bahas, InshaaAllah akan mengetahui jawabannya dan InshaaAllah menjadi renungan untuk semuanya. Aamiin

Bismillahirrahmanirrahim.... 

Menurut sumber yang pernah Aku baca. Dalam artian bahasa Arab  Ta'aruf artinya Perkenalan. Tapi balik lagi, perkenalan seperti apa yang dimaksud. Perkenalan yang dilakukan oleh pihak ketiga dari pihak Ikhwan maupun Akhwat. 

Jangan sekali-kali memaknai kata "ta'aruf" secara sempit, pelajari dulu serangakaian tata cara ta'aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. JIka memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Sungguh tidak ada bedanya bukan ? (Mari coba kita masing-masing renungkan)

Dalam ta'aruf, mereka (pihak ketiga) saling mengenalkan keadaan masing-masing. Seperti halnya penyakit yang sedang diderita, apa pekerjaannya, bagaimana latar belakangnya serta pertanyaan yang lainnya. Bila terjadi kecocokan antara mereka, bisa dilanjutkan ke proses khitbah (lamaran), dan bila tidak cocok, ta'aruf bisa dihentikan. Bukan malah bertindak sendiri sehingga bertanya sesuka hati dan bebas berinteraksi tanpa henti.


Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan Akhwat dan Ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta dan Akhwatnya terpedaya.... Naudzubillah~ Sungguh mengerikan, bermesraan di dunia maya, dan syaitanpun tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Lalu tertancaplah rasa, bermekarlah di dada, sedangkan belum ada sertifikat halal diantara keduanya. Astaghfirullah…Bukan ta’aruf yang seperti itu yang Rasulullah ajarkan ya Sahabat Hijrah.

Wahai Ikhwan, Jangan sekali-kali Permainkan Ta’aruf!
                                 
Muslimah  itu seperti mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya bahkan tidak sembarang orang bisa memilikinya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Temui walinya atau carilah informasi tentang Akhwat melalui pihak ketiganya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silahkan saja, tapi prosesnya jangan sampai keluar dari koridornya.

Sejujurnya, Aku menulis kata-kata ini penuh pertimbangan, MENGAPA ? Sebab, Akupun termasuk tokoh dalam cerita ini. Aku mengalaminya sendiri dalam kehidupanku, dimana Ikhwan sangat mudah sekali mengatakannya kepada Akhwat yang jelas-jelas masih goyah imannya, masih terkena bujuk rayu (bukan mahrom) nya bahkan masih sering syeitan menggodanya.

Tapi entah mengapa, Aku ingin sekali posting ini, postingan yang menurutku pantas untuk jadi renungan, khususnya untukku dan umumnya untuk Sahabat Hijrah sekalian.

Kata-kata yang membuatku sangat amat tertegun, lantas apa bedanya seseorang yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah ?.
*Astaghfirullah….
*Ampuni atas kekhilafan hambamu ini ya Allah..

_Ukhti Herli_




Tidak ada komentar:

Posting Komentar