Kita kini hidup di zaman yang
dimana orang menghalalkan pacaran namun mengharamkan daging babi, dan lebih
parahnya lagi mengatakan ta’arufan, namun perilakunya seperti orang
pacaran. Astaghfirullah J
Sebelumnya, Aku mau ucapin
Assalamualaikum dulu nih sama Sahabat Hijrah semuanya, semoga tetap dalam
lindunganNya, dipanjangkan usianya serta dilancarkan puasanya, Aamiin Allahuma
Aamiin…
Kali ini, Aku akan posting
mengenai ‘ta’aruf’ nih Sahabat Hijrah. Yang dimana
kata tersebut merupakan sebuah kata yang mudah diucapkan, sikap yang mudah
untuk dilakukan, jika tidak sesuai dengan aturan.
Banyak Ikhwan yang mengatakan 'Ukhti, Aku tertarik ta'aruf sama Anti. UKhti, Aku mau ta'aruf sama Anti yaa' dan perkataan semacamnya. Itu kalimat yang sering Aku dengar, baik aduan Akhwat maupun ungkapan Ikhwan secara langsung (walau langsung disitu bukan temu muka melainkan lewat sosial media yaa....). Sedikit geram Aku mendengar kalimat tersebut. Sungguh mudahnya Ikhwan mengatakan itu.
Dengan berkembangnya zaman, berkembang pula pemikiran manusia dan teknologi yang ada. Hingga dengan begitu pemikiran manusia mampu menghalalkan apa yang diharamkan, serta dengan teknologi yang semakin canggih pula, semakin mudah manusia menghalalkannya
Banyak jaringan sosial dunia maya yang diciptakan, seperti fac****k, tw***er, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua digunakan sebagai medianya. Astaghfirullah~
Sesungguhnya, semua jaringan itu sangatlah bermanfaat asalkan digunakan dengan tepat. Hal tersebut bertujuan untuk menjalin silaturahmi, yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat semakin di dekatkan, tapi balik lagi harus sesuai dengan aturannya. Namun, zaman pula yang mengubah itu semua. Kini bukan hanya sekedar silaturahmi, namun dijadikan media interaksi secara bebas tanpa batas. Astaghfirullah, sungguh dahsyatnya jebakan dunia maya untuk menjerumuskan kita. Dan sungguh bodohnya, kita terjerumus didalamnya.
Postingan kali ini bukan ingin membahas tentang kejadian hilangnya orang atau pemerk*saan yang diakibatkan dunia maya ya Sahabat HIjrah, namun akan membahas tentang ta'aruf, sebagaimana yang sudah ku beritahukan pada paragraf sebelumnya J
Kasus ta'aruf ini sangatlah memprihatinkan. Seorang Ikhwan sebegitu mudahnya memaknai ta'aruf hanya dengan melihat Akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, ia langsung berani mengungkapkan kata 'ta'aruf' tanpa perantara didalamnya.
"Sebenarnya apa sih ta'aruf itu ? Bagaimana sih cara yang benar melakukannya?". Nah kali ini, tepat pada postingan ini juga InshaaAllah akan di bahas, InshaaAllah akan mengetahui jawabannya dan InshaaAllah menjadi renungan untuk semuanya. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahim....
Menurut sumber yang pernah Aku baca. Dalam artian bahasa Arab Ta'aruf artinya Perkenalan. Tapi balik lagi, perkenalan seperti apa yang dimaksud. Perkenalan yang dilakukan oleh pihak ketiga dari pihak Ikhwan maupun Akhwat.
Jangan sekali-kali memaknai kata "ta'aruf" secara sempit, pelajari dulu serangakaian tata cara ta'aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. JIka memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Sungguh tidak ada bedanya bukan ? (Mari coba kita masing-masing renungkan)
Dalam ta'aruf, mereka (pihak ketiga) saling mengenalkan keadaan masing-masing. Seperti halnya penyakit yang sedang diderita, apa pekerjaannya, bagaimana latar belakangnya serta pertanyaan yang lainnya. Bila terjadi kecocokan antara mereka, bisa dilanjutkan ke proses khitbah (lamaran), dan bila tidak cocok, ta'aruf bisa dihentikan. Bukan malah bertindak sendiri sehingga bertanya sesuka hati dan bebas berinteraksi tanpa henti.
Dengan berkembangnya zaman, berkembang pula pemikiran manusia dan teknologi yang ada. Hingga dengan begitu pemikiran manusia mampu menghalalkan apa yang diharamkan, serta dengan teknologi yang semakin canggih pula, semakin mudah manusia menghalalkannya
Banyak jaringan sosial dunia maya yang diciptakan, seperti fac****k, tw***er, dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua digunakan sebagai medianya. Astaghfirullah~
Sesungguhnya, semua jaringan itu sangatlah bermanfaat asalkan digunakan dengan tepat. Hal tersebut bertujuan untuk menjalin silaturahmi, yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat semakin di dekatkan, tapi balik lagi harus sesuai dengan aturannya. Namun, zaman pula yang mengubah itu semua. Kini bukan hanya sekedar silaturahmi, namun dijadikan media interaksi secara bebas tanpa batas. Astaghfirullah, sungguh dahsyatnya jebakan dunia maya untuk menjerumuskan kita. Dan sungguh bodohnya, kita terjerumus didalamnya.
Postingan kali ini bukan ingin membahas tentang kejadian hilangnya orang atau pemerk*saan yang diakibatkan dunia maya ya Sahabat HIjrah, namun akan membahas tentang ta'aruf, sebagaimana yang sudah ku beritahukan pada paragraf sebelumnya J
Kasus ta'aruf ini sangatlah memprihatinkan. Seorang Ikhwan sebegitu mudahnya memaknai ta'aruf hanya dengan melihat Akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, ia langsung berani mengungkapkan kata 'ta'aruf' tanpa perantara didalamnya.
"Sebenarnya apa sih ta'aruf itu ? Bagaimana sih cara yang benar melakukannya?". Nah kali ini, tepat pada postingan ini juga InshaaAllah akan di bahas, InshaaAllah akan mengetahui jawabannya dan InshaaAllah menjadi renungan untuk semuanya. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahim....
Menurut sumber yang pernah Aku baca. Dalam artian bahasa Arab Ta'aruf artinya Perkenalan. Tapi balik lagi, perkenalan seperti apa yang dimaksud. Perkenalan yang dilakukan oleh pihak ketiga dari pihak Ikhwan maupun Akhwat.
Jangan sekali-kali memaknai kata "ta'aruf" secara sempit, pelajari dulu serangakaian tata cara ta'aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. JIka memakai kata ta'aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Sungguh tidak ada bedanya bukan ? (Mari coba kita masing-masing renungkan)
Dalam ta'aruf, mereka (pihak ketiga) saling mengenalkan keadaan masing-masing. Seperti halnya penyakit yang sedang diderita, apa pekerjaannya, bagaimana latar belakangnya serta pertanyaan yang lainnya. Bila terjadi kecocokan antara mereka, bisa dilanjutkan ke proses khitbah (lamaran), dan bila tidak cocok, ta'aruf bisa dihentikan. Bukan malah bertindak sendiri sehingga bertanya sesuka hati dan bebas berinteraksi tanpa henti.
Banyaknya jaringan sosial di
dunia maya menjadikan Akhwat dan Ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.
Ikhwannya membabi buta dan Akhwatnya terpedaya.... Naudzubillah~ Sungguh
mengerikan, bermesraan di dunia maya, dan syaitanpun tak menyia-nyiakan
kesempatan yang ada. Lalu tertancaplah rasa, bermekarlah di dada, sedangkan
belum ada sertifikat halal diantara keduanya.
Astaghfirullah…Bukan ta’aruf yang seperti itu yang Rasulullah ajarkan ya
Sahabat Hijrah.
Wahai Ikhwan, Jangan sekali-kali
Permainkan Ta’aruf!
Muslimah itu seperti mutiara,
tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh
memandangnya bahkan tidak sembarang orang bisa memilikinya. Jika kalian punya
keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam.
Temui walinya atau carilah informasi tentang Akhwat melalui pihak ketiganya.
Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silahkan saja, tapi
prosesnya jangan sampai keluar dari koridornya.
Sejujurnya, Aku menulis kata-kata ini penuh pertimbangan, MENGAPA ? Sebab, Akupun termasuk tokoh dalam cerita ini. Aku mengalaminya sendiri dalam kehidupanku, dimana Ikhwan sangat
mudah sekali mengatakannya kepada Akhwat yang jelas-jelas masih goyah imannya, masih
terkena bujuk rayu (bukan mahrom) nya bahkan masih sering syeitan menggodanya.
Tapi entah mengapa, Aku ingin
sekali posting ini, postingan yang menurutku pantas untuk jadi renungan,
khususnya untukku dan umumnya untuk Sahabat Hijrah sekalian.
Kata-kata yang membuatku sangat
amat tertegun, lantas apa
bedanya seseorang yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah ?.
*Astaghfirullah….
*Ampuni atas kekhilafan hambamu
ini ya Allah..
_Ukhti Herli_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar