Assalamualaikum
Sahabat Hijrah yang Inshaa Allah dimuliakan Allah SWT J Semoga selalu sehat dan
diselimuti kebahagiaan dalam hidupnya. Aamiin Allahuma Aamiin…
Posting
kali ini, tepat Selasa/ 14 Juni 2016. Aku akan mengambil judul “Semester 6 ? Dimana Lebih
Memilih Untuk Menikah Daripada Kuliah”.
Pasti
yang merasa lagi senyum-senyum baca judulnya sambil berkata dalam hati ‘duh
bener banget’ HAHA (karena Akupun merasakan hal serupa :D )
Mengapa
Aku mengambil judul tersebut dalam postingan kali ini sedangkan Aku bukan lagi
semester 6, melainkan akan melangkah ke semester 7?
*Dih
Herli ngaku-ngaku semester 7, emang udah bayaran?*
*Belum
sih L*
*Yadeh
maap. Lupakan*
(Kembali
ke Topik)
Alasan
Aku mengambil judul ini yaitu… (Begini ceritanya) *Sambil menatap
langit-langit*
Suatu
hari, disaat Aku menginjakkan kaki di awal semester 6. YAPS, SEMESTER 6, dimana
masa itu merupakan masa-masa jenuh dalam perkuliahan. Aku disibukkan dengan Kuliah
Kerja Mandiri (KKM) yang mengharuskan Aku pulang malam setiap harinya, dan
disaat pagi hari Aku diharuskan mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Huft..
lelah kurasa pada tubuh mungilku ini, bahkan tiap pagi bukan sarapan yang menyambutku
melainkan kantuk yang menyelimutiku. Namun, lelah dan kantuk tersebut bukan
hanya Aku yang merasakan, melainkan teman-teman sekelasku juga. (sambil nguap)
Hingga
pada waktunya, tubuhku pun tumbang dan hanya bisa berbaring di rumah. Sudah
berobat kemana-mana, tapi tetap pelabuhan terakhirku di RSUD di kotaku. (Tapi
tidak sampai di rawat yaa hehe sungguh sejoli sekali Aku dengan Rumah Sakit itu)
Jenuh
sekali semester ini. Bagaimana tidak ? Kuliah pagi, tugas numpuk, malam KKM,
yah... gitu-gitu aja kegiatanku sampai sukses ( eh maaf, maksudnya kegiatanku
gitu-gitu aja selama semester 6).
Waktu
terus berjalan, kejenuhanpun semakin terasa. Ditambah lagi dengan musim yang
sedang terjadi pada saat itu, yaitu MUSIM NIKAH. Musim nikah kali ini dipersembahkan
oleh MAHASISWA.
*Ehbuset
udah kek iklan aja*
Apa
seseorang yang menikah tersebut sedang merasakan jenuhnya menjadi mahasiswa sehingga
memilih untuk menikah ? Apakah menikah merupakan pelarian atas kejenuhannya
saja ? Atau alasan menikah itu hanya ingin saat wisuda ditemani suaminya? Ah
Aku gatauuuu… Gamau suudzon juga lagi puasa hehe….
*tumben otak Herli lempeng*
*Ih
tiap hari juga lempeng kali kek jalan tol*
Mencoba
untuk tidak memikirkan tapi pertanyaan tersebut terngiang dalam benakku serta menyiksa
pikiranku…ARRRRGGGHHHH
Sempat
saat itu, Aku memilih ingin menikah saja daripada kuliah. ‘Tapi dengan siapa Aku menikah
? Apakah ada yang ingin menikah denganku’ Pertanyaan seperti itu yang
membuatku mengurungkan serta mengubur dalam-dalam keinginkanku. (Hanya untuk
saat itu saja ya bukan untuk selamanya lho).
Bukan
hanya Aku saja yang mempunyai keinginan seperti itu, melainkan hampir semua
teman sebayaku.
Keinginan tersebut muncul hanya karena sebuah kejenuhan. Kejenuhan akan tugas, kejenuhan akan dosen yang tidak jelas bahkan kejenuhan akan segala aktivitas.
AKU
INGIN MENIKAH SAJA!!!
AKU
INGIN MENIKAH SAJA!!!
AKU
INGIN MENIKAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!
Kata-kata
seperti itu yang berkecambuk dalam hati, Dalam hati berkata ‘ingin’ tapi pikiran
berkata lain, ‘Apakah Aku sudah siap menjadi seorang Istri bahkan Ibu diusiaku yang
segini sedangkan Aku saja kuliah belum selesai ? Apakah Aku bisa bagi waktu
untuk keluarga serta kuliahku nanti?’ yah.. itu isi pikiranku. Sungguh
berbanding terbalik antara perasaan dan pikiran. Huft…
Ternyata
keinginan itu bukan hanya dirasakan olehku dan teman sebayaku saja melainkan seluruh
mahasiswa semester 6 di Indonesia. Bagaimana Aku tahu ? Lihat saja sosial
media, disana Aku menemukan banyak sekali meme
yang berkeliaran tentang itu. Namun, ada satu meme yang sempat membuatku tergelitik, bunyinya seperti ini “Semester
6, Dimana yang cewe minta di nikahin dan yang cowo mencari tante-tante kaya
untuk biaya kuliah”.
HAHA tepat
sekali meme itu.
Kini Aku sadar, pernikahan itu bukanlah sebuah permainan apalagi
atas dasar kejenuhan. Pernikahan seperti itu tidaklah akan bertahan lama.
#QUOTE’S
Pernikahan itu bukanlah sebuah perlombaan, yang siapa cepat
dia dapat
Pernikahan bukan sekedar dapat melainkan siap.
Pernikahan itu proses
memantasakan diri bukan mengejar nafsu dan ego diri.
Pernikahan itu demi
ridhonya yang menjadi tujuan, bukan usianya
yang masuk duluan
_Ukhti Herli_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar