By : Ukhty Herli
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh..
Bagaimana hari ini Sahabat Hijrah
? Masihkah kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya ? Harus selalu
bersyukur, jangan sampai kita menjadi hambaNya yang kufur.
Postingan ini merupakan lanjutan
dari postingan yang sebelumnya, maka dari itu aku memberikan kata PART 2 pada
judulnya. Yang sebelumnya, itu kisah antara aku dengan temanku. Kali ini
berbeda, melainkan dengan orang yang usianya diatasku bahkan beliau sudah
berkeluarga (mempunyai anak dan juga istri) tepatnya merupakan salah satu
karyawan dimana aku ditempatkan untuk magang.
Bukan kepribadian serta keluarga
beliau yang ingin aku posting, melainkan ucapannya yang sedikit membuatku tak
habis pikir terhadapnya.
Suatu hari, dia bertanya padaku
perihal yang sama dengan postingan yang sebelumnya, tak lain adalah pacaran. Bukan aku ingin menggurui atau
sok pintar, namun aku menjawab sesuai apa yang aku ketahui.
Kurang lebih percakapannya
seperti ini : *Aku ambil percakapannya secara garis besar, karena untuk detailnya
aku lupa hihi*
(A : Bapak tersebut , B : Aku)
A : Kamu punya pacar ?
B : (Dengan sedikit bingung atas
pertanyaannya, aku menjawab seadanya) Saya ga pacaran pak.
A : Lho kenapa ? (Muka yang penuh
tanya)
B : Pacaran kan dilarang pak. Dan
dalam Islam ga ada kata pacaran. (jawabku polos)
A : Kata siapa ? Terus kalau ta’aruf
itu bagaimana ?
B : Ta’aruf berbeda dengan
pacaran pak.
A : Memang arti ta’aruf itu apa ?
B : Ta’aruf itu perkenalan
A : Lantas bedanya apa dengan
pacaran ? Pacaran juga kan perkenalan.
B : Jelas sekali berbeda pak,
jika ta’aruf ada pihak ketiga sebagai perantaranya. Sedangkan pacaran ? Tidak
ada perantaranya dan bebas beinteraksi tanpa batas. Memang banyak orang
beranggapan bahwa pacaran sebagai awal perkenalan, namun berbeda denganku.
Menurutku pacaran merupakan awal dari perzinahan.
A : Kamu terlalu jauh mikirnya,
kamu menganggapnya terlalu negatif.
B : Bukan terlalu jauh dan
terlalu negatif pak. Dulu sayapun pelaku pacaran, maka dari itu saya bisa
bicara seperti ini. Saya belum menemukan apa manfaat dari pacaran, yang ada
bukan manfaat pak melainkan kerugian. Banyak yang galau karenanya.
A : Mungkin masa lalu kamu saja
yang terlalu kelam, tapi kan berbeda dengan orang lain. Orang lain
menganggapnya positif, bisa membuat semangat belajar dan lain sebagainya.
B : Memang pak, masa lalu saya
berbeda dengan masa lalu orang lain. Tapi, banyak dari teman-teman saya mengeluh
karena itu. Banyak berita pembunuhan dan orang hilang yang motifnya karena
pacaran.
A : Tapi kan ga semua yang
pacaran yang berakhir seperti itu.
B : Tepat sekali pak. Semua yang
pacaran tidak berakhir seperti itu, tapi dari yang pacaran banyak yang mendapati
perlakuan seperti itu. Apalagi zaman sekarang, pembuktian kesetiaan dan rasa
sayang saja sampai mengorbankan kehormatan. Astaghfirullah!
A : Duh, kamu anggapannya udah
terlalu jauh. Mindset kamu udah negatif banget
B : (saya ambil al quran) kalau
memang menurut bapak pacaran diperbolehkan. Ini ada al quran pak, coba bapak
cari surah dan ayat yang memperbolehkan pacaran ?
A : Yasudah itu menurut
pendapatmu, kamu mindsetnya terlalu negatif
B : (Diam dan tak menjawab
ucapannya lagi)
Aku mengakhiri percakapannya bukan
berarti aku setuju atas apa yang diucapkannya. Aku hanya tidak ingin berdebat
dengannya terlalu jauh, karena Islam begitu sederhana. Tidak mempersulit
keadaan apapun.
Dalam percakapan tersebut aku
memang terkesan menggurui. Namun, dalam lubuk hati yang paling dalam tidak ada
maksud untuk menggurui melainkan menjawab apa yang ditanyakan.
Rasanya tidak heran dengan
pernyataan tersebut. Sudah banyak ku dapati hal semacam itu dari orang-orang
disekelilingku. Yang mengatakan pacaran dapat menimbulkan hal positif, dari
segi semangat belajar dan lain sebagainya. Namun, lagi-lagi aku tidak
sependapat dengan pernyataan tersebut. Memang pacaran itu banyak hal
positifnya. Positif haram, positif zina,
dan positif hamil. Benar tidak ???
Postingan part 1 dan part 2 bukanlah
dari orang yang sama. Tetapi, jika diperhatikan pernyataannya hampir sama yaitu
terlalu menghalalkan apa yang diharamkan.
Aku sempat menulis status pada
akun facebook dan instagramku. Aku merasa miris pada zamanku ini. Dengan
teknologi yang semakin pesat dan pemikiran yang semakin jauh, manusia dapat
menghalalkan apa yang jelas-jelas diharamkan. Terkadang, aku bertanya pada hati
kecilku “APAKAH INI YANG DISEBUT DENGAN AKHIR
ZAMAN?” Dimana segala laranganNya dianggap hal biasa bahkan dilakukan oleh
kebanyakan orang. Yang tuntunan menjadi tontonan begitupun sebaliknya. Sesuatu
yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku yang menyimpang
dan kurang ajar menjadi pemandangan yang biasa. Astaghfirullah!
Saluuuutttt dengan orang-orang
yang tidak mengikuti zaman. Tetap berpegang teguh pada aturanNya. Didunia merasa
terasingkan dengan kesendiriannya dan merasa terasingkan dengan apa yang telah
dipilihnya. Namun, sejatinya merekalah orang-orang yang akan beruntung kelak.
“Islam datang dalam keadaan yang asing. Sungguh beruntunglah orang yang
asing” (HR. Muslim no 145)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar