Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Kamis, 11 Agustus 2016

INILAH PERNYATAAN MEREKA (PART 2)



By : Ukhty Herli

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Bagaimana hari ini Sahabat Hijrah ? Masihkah kita bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya ? Harus selalu bersyukur, jangan sampai kita menjadi hambaNya yang kufur.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan yang sebelumnya, maka dari itu aku memberikan kata PART 2 pada judulnya. Yang sebelumnya, itu kisah antara aku dengan temanku. Kali ini berbeda, melainkan dengan orang yang usianya diatasku bahkan beliau sudah berkeluarga (mempunyai anak dan juga istri) tepatnya merupakan salah satu karyawan dimana aku ditempatkan untuk magang.

Bukan kepribadian serta keluarga beliau yang ingin aku posting, melainkan ucapannya yang sedikit membuatku tak habis pikir terhadapnya.

Suatu hari, dia bertanya padaku perihal yang sama dengan postingan yang sebelumnya, tak lain adalah pacaran. Bukan aku ingin menggurui atau sok pintar, namun aku menjawab sesuai apa yang aku ketahui.

Kurang lebih percakapannya seperti ini : *Aku ambil percakapannya secara garis besar, karena untuk detailnya aku lupa hihi*
(A : Bapak tersebut , B : Aku)

A : Kamu punya pacar ?
B : (Dengan sedikit bingung atas pertanyaannya, aku menjawab seadanya) Saya ga pacaran pak.
A : Lho kenapa ? (Muka yang penuh tanya)
B : Pacaran kan dilarang pak. Dan dalam Islam ga ada kata pacaran. (jawabku polos)
A : Kata siapa ? Terus kalau ta’aruf itu bagaimana ?
B : Ta’aruf berbeda dengan pacaran pak.
A : Memang arti ta’aruf itu apa ?
B : Ta’aruf itu perkenalan
A : Lantas bedanya apa dengan pacaran ? Pacaran juga kan perkenalan.
B : Jelas sekali berbeda pak, jika ta’aruf ada pihak ketiga sebagai perantaranya. Sedangkan pacaran ? Tidak ada perantaranya dan bebas beinteraksi tanpa batas. Memang banyak orang beranggapan bahwa pacaran sebagai awal perkenalan, namun berbeda denganku. Menurutku pacaran merupakan awal dari perzinahan.
A : Kamu terlalu jauh mikirnya, kamu menganggapnya terlalu negatif.
B : Bukan terlalu jauh dan terlalu negatif pak. Dulu sayapun pelaku pacaran, maka dari itu saya bisa bicara seperti ini. Saya belum menemukan apa manfaat dari pacaran, yang ada bukan manfaat pak melainkan kerugian. Banyak yang galau karenanya.
A : Mungkin masa lalu kamu saja yang terlalu kelam, tapi kan berbeda dengan orang lain. Orang lain menganggapnya positif, bisa membuat semangat belajar dan lain sebagainya.
B : Memang pak, masa lalu saya berbeda dengan masa lalu orang lain. Tapi, banyak dari teman-teman saya mengeluh karena itu. Banyak berita pembunuhan dan orang hilang yang motifnya karena pacaran.
A : Tapi kan ga semua yang pacaran yang berakhir seperti itu.
B : Tepat sekali pak. Semua yang pacaran tidak berakhir seperti itu, tapi dari yang pacaran banyak yang mendapati perlakuan seperti itu. Apalagi zaman sekarang, pembuktian kesetiaan dan rasa sayang saja sampai mengorbankan kehormatan. Astaghfirullah!
A : Duh, kamu anggapannya udah terlalu jauh. Mindset kamu udah negatif banget
B : (saya ambil al quran) kalau memang menurut bapak pacaran diperbolehkan. Ini ada al quran pak, coba bapak cari surah dan ayat yang memperbolehkan pacaran ?
A : Yasudah itu menurut pendapatmu, kamu mindsetnya terlalu negatif
B : (Diam dan tak menjawab ucapannya lagi)

Aku mengakhiri percakapannya bukan berarti aku setuju atas apa yang diucapkannya. Aku hanya tidak ingin berdebat dengannya terlalu jauh, karena Islam begitu sederhana. Tidak mempersulit keadaan apapun.

Dalam percakapan tersebut aku memang terkesan menggurui. Namun, dalam lubuk hati yang paling dalam tidak ada maksud untuk menggurui melainkan menjawab apa yang ditanyakan.

Rasanya tidak heran dengan pernyataan tersebut. Sudah banyak ku dapati hal semacam itu dari orang-orang disekelilingku. Yang mengatakan pacaran dapat menimbulkan hal positif, dari segi semangat belajar dan lain sebagainya. Namun, lagi-lagi aku tidak sependapat dengan pernyataan tersebut. Memang pacaran itu banyak hal positifnya. Positif haram, positif zina, dan positif hamil. Benar tidak ???

Postingan part 1 dan part 2 bukanlah dari orang yang sama. Tetapi, jika diperhatikan pernyataannya hampir sama yaitu terlalu menghalalkan apa yang diharamkan.

Aku sempat menulis status pada akun facebook dan instagramku. Aku merasa miris pada zamanku ini. Dengan teknologi yang semakin pesat dan pemikiran yang semakin jauh, manusia dapat menghalalkan apa yang jelas-jelas diharamkan. Terkadang, aku bertanya pada hati kecilku “APAKAH INI YANG DISEBUT DENGAN AKHIR ZAMAN?” Dimana segala laranganNya dianggap hal biasa bahkan dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang tuntunan menjadi tontonan begitupun sebaliknya. Sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku yang menyimpang dan kurang ajar menjadi pemandangan yang biasa. Astaghfirullah!

Saluuuutttt dengan orang-orang yang tidak mengikuti zaman. Tetap berpegang teguh pada aturanNya. Didunia merasa terasingkan dengan kesendiriannya dan merasa terasingkan dengan apa yang telah dipilihnya. Namun, sejatinya merekalah orang-orang yang akan beruntung kelak.

Islam datang dalam keadaan yang asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” (HR. Muslim no 145)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar