By : Ukhty Herli
Assalamualaikum Wr Wb
Wahai Sahabat Seimanku,
Postingan kali ini mungkin berbeda dengan postingan sebelumnya.
Yang sebelumnya lebih banyak membahas perihal jodoh atau persoalan duniawi.
Tetapi, kali ini kita akan sedikit membahas kehidupan kekal yang tengah
menanti. Bacalah dengan hati yang suci, renungkan dengan baik dan
ambilah hikmah dari apa yang kau baca hari ini…
Kita hidup di dunia hanyalah sementara, semua orang pasti akan
mengalami fase yang dimana ditakuti oleh banyak orang, apalagi kalau bukan
kematian. Coba tanyakan kepada orang terdekatmu, siapkah jika hari ini ia
menghadap sang Illahi ? Siapkah jika malaikat Izrail menghampiri untuk mencabut
nyawamu hari ini ? Pasti jawabannya tidak, dengan alasan masih banyak dosa yang
diperbuat.
Islam mengajarkan kita bahwa setiap yang bernyawa pasti akan
menemui ajal atau kematian. Sebagaimana telah tertera pada Surah Ali Imran ayat
185 “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati”.
Kematian tidak akan bisa dicegah atau kita hindari. Tua-muda, anak
kecil-dewasa, pria-wanita pasti akan mengalaminya. Kematian adalah hadiah
terindah bagi orang-orang yang beriman, namun akan menjadi terror yang
menakutkan bagi orang-orang yang tidak beriman.
Setelah kematian, semua orang akan dihidupkan kembali di alam
akhirat nanti. Dalam kehidupan inilah, setiap manusia akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan semasa hidupnya.
Allah menciptakan manusia di dunia ini tidak lain kecuali untuk di
uji, sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al Mulk ayat 1-2 yang artinya :
“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun”.
Sadar atau tidak, setiap hari kita sering melakukan yang namanya
perbuatan dosa. Yang dimana telah tercatat segala perkataan dan perbuatan kita.
Dari perbuatan kecil hingga perbuatan yang besar.
Tubuh kita dan bumi akan menjadi saksi atas perbuatan yang
dilakukan. Begitu juga sebagian mereka akan menjadi saksi atas sebagian yang
lain. Lebih dari itu, Allah menjadi saksi terhadap mereka.
Membahas soal tubuh, JEMPOL (Ibu Jari) merupakan salah satu jari
pada tangan dan tetap saja itu dikatakan sebagai anggota tubuh kita. Walau ia
tak berbicara seperti mulut, tak melihat seperti mata dan tak mendengar seperti
telinga, tapi tetap kelak akan diminta pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para perempuan, bacalah tasbih,
tahlil dan tahmid serta taqdis, dan hitunglah dengan jari. Sesungguhnya,
jari-jari itu akan dimintai pertanggungjawaban lagi diminta bicara, janganlah
kalian lalai, sehingga kalian akan lalai terhadap rahmat. “ (HR. Abu Daud dan
Tirmidzi).
Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa
perempuan dianjurkan menggunakan jarinya untuk berdzikir (menghitung bacaan
tasbih, tahlil, tahmid serta taqdis). Sebab, kelak jari-jarinya akan dimintai
pertanggungjawaban.
Lantas, bagaimana dengan laki-laki ?
Memang dalam hadist tersebut, laki-laki tidak disebutkan. Namun,
bagi laki-lakipun tetaplah sama. Kelak, jarinya akan dimintai
pertanggungjawaban.
Berdzikir digunakan untuk mengingat Allah SWT. Hal tersebut
merupakan sebuah kewajiban bagi setiap orang yang beriman, baik laki-laki dan
perempuan. (Tolong digaris bawahi setiap orang yang berimannya. Itu tandanya
bukan hanya untuk perempuan saja melainkan untuk laki-laki juga)
Bagaimana dengan kalian ?
Sudahkah hari ini kita memanfaatkan apa yang ada dalam tubuh kita
untuk kebaikan ?
Sudahkah hari ini kita pergunakan jari-jari kita khususnya jempol untuk
berdzikir ?
Coba lirik jempolmu, apa saja yang sudah dilakukannya hari ini ?
(Ayo diingat dan setelahnya coba di renungkan)
Jangan bilang, setiap harinya jempol kita hanya digunakan untuk
membuat status galau di facebook
Jangan bilang, hanya digunakan untuk mengunggah foto agar mendapat
pujian dari orang lain
Jangan bilang, hanya digunakan untuk membuat status mengeluh di
bbm
Jangan bilang, hanya digunakan untuk mengirim pesan “sayang”
atau kemesraan kepada pasangan yang bukan mahrom
Jangan bilang, hanya digunakan untuk mengirim pesan yang isinya
membicarakan orang lain
Atau yang lebih parahnya, jangan bilang hanya digunakan untuk
membuat status atau mengirim pesan yang menyebutkan seisi ragunan.
Astaghfirullahaladzim!
Apakah jempolmu setiap hari digunakan untuk itu ?
Apakah Islam, agamamu mengajarkanmu untuk melakukan itu semua?
Hanya untuk membuat status yang seharusnya tidak perlu di buat
Hanya untuk membuat status mengeluh, sedangkan Allah telah
memberikan segalanya pada kita ? Mengapa kita enggan sekali untuk bersyukur ?
Bukankah jika kita bersyukur, Allah akan menambahkan nikmatNya kepada kita ?
Hanya dipergunakan untuk membicarakan orang lain ? Yang
jelas-jelas itu ghibah. Dan ghibah merupakan dosa besar. Ibarat memakan
bangkai saudaranya sendiri. Betapa jijik dan kejamnya perilaku itu.
Atau jempolmu hanya dipergunakan untuk mengirim pesan “sayang”
atau kemesraan kepada pasangan yang bukan mahrom ? Yang jelas-jelas
itu dilarang dan tidak ada sama sekali ayat atau surah yang menghalalkan untuk
itu.
Apapun alasannya, ingatlah jempol yang selama ini diberikan oleh
Allah dan dipergunakan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Setelah mengetahui semuanya, masih lalaikah kita ?
Masihkah kita terbuai oleh indahnya dunia sedangkan sudah jelas
itu akan menjerumuskan kita?
Mari pergunakan tubuh kita khususnya jempol untuk kebaikan
Pergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat
Daripada digunakan untuk membicarakan orang, alangkah baiknya
digunakan untuk saling mengingatkan dan menebar kebaikan.
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal
yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar